Uncategorized

Minggu 3 – Jumat “Saat Anda Lelah Merasa Lemah…”

banner 3 fri

w3d5.jpg

Saya duduk diam di ruang tunggu sambal air mata membasahi wajah saya. Emosi saya yang tidak stabil sering mengagetkan diri saya sendiri. Saya lelah merasa lemah.

Padahal, saya orang yang seharusnya selalu utuh dalam segala sesuatu.

Dan, betapa ingin saya menjadi orang seperti itu: tidak butuh banyak perawatan yang selalu mendorong, selalu ada senyum di wajah, murah hati dengan waktu saya, dan membantu meringankan beban orang lain. Saya membenci kelemahan saya. Apakah disebut belas kasihan, sindrom anak tengah, ataukah kasus yang buruk dari menginginkan kontrol. Apapun itu, tidaklah enak jika Anda bukan orang yang seperti saya sebutkan tadi.

Minggu sebelumnya, kelompok kecil saya yang seperti keluarga telah membanjiri saya dengan cinta dan perhatian. Saya dan suami duduk di lantai ruang tamu dan menangis saat teman-teman kami mengelilingi kami dan mendoakan anak laki-laki kami yang sakit pada Tuhan kita yang sanggup. Dia sendiri sanggup menyembuhkan anak kami dalam sekejap, namun demi Kemuliaan-Nya dan kebaikan kami, Ia telah membawa kami dalam perjalanan medis selama bertahun-tahun.

Kondisi turunan yang kacau telah membuat anak kami berada di ruang tunggu rumah sakit jauh lebih sering dari yang kami inginkan. Tentang kondisinya, kami selalu tahu bahwa “bisa disembuhkan,” namun jalannya tidaklah menyenangkan. Anak-anak kami harus menghadapi tes demi tes dan rawat inap yang menyulitkan, dan saya menangis di setiap periksa saat saya mendengar anak-anak balita saya menangis, “Seleesaiii, Mama. Selesaiii.” Terkadang nampaknya tidak adil bahwa pasangan lain memiliki anak-anak yang sehat, tapi dalam hari-hari dimana saya tidak egois, saya juga merasa tidak adil bahwa anak-anak kami boleh melalui ini sementara anak-anak lain dengan kondisi kesehatan lebih butuk tidak akan dapat melihat hasil seoptimis kami. Jujur, glombang emosi ini saja lebih dari apa yang saya -perempuan yang nampaknya kuat- sanggup untuk hadapi.

Kursi ruang tamu keras dan tidak nyaman, pasangan sempurna dengan keadaan hati saya. Seorang asing telah mendorong anak laki-laki saya kedalam pintu itu tanpa saya beberapa jam sebelumnya, dan sekarang operasi berlangsung jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Bagi kemuliaan-Mu dan kebaikan saya, Tuhan? Tidak, terima kasih. Alkitab saya terbuka pada kitab Amsal, halaman-halamannya basah; pertama karena takut, dan kemudian karena air mata memohon pengampunan atas keraguan saya pada Dia yang memiliki segala sesuatu dengan utuh.

Saya merasa lelah karena tidak merasa utuh. Dan sekarang saya ingin berteriak, “Selesai, Bapa. Saya tidak ingin membawa ini lagi.”

Tapi Tuhan mereka-rekakannya untuk kebaikan.

Kata-kata terkenal dari Kejadian ini terus mengetuk dinding hati saya, mengingatkan saya bahwa dalam setiap kemenangan dan kegagalan dalam hidup, Tuhan memiliki tujuan yang lebih besar dari sekedar kenyamanan saya. Sesungguhnya melalui saat-saat lemah, saat saya tidak merasa utuh [sebenarnya setiap saat] saya lebih mengerti siapa Dia.

Tuhan yang membentuk di dalam kandungan, yang melihat setiap pikiran dan kebutuhan saya, yang mengasihi saya dengan kondisi saya – Dia mengerti dan berbelas kasihan pada saya dalam kelemahan saya. Dia dengan rela berjalan di jalan yang tidak layak untuk orang sempurna, dan bersimpati dengan penderitaan saya – tidak peduli seberapa besar, atau sepertinya tidak penting. Dan puji Tuhan Dia terlalu mengasihi saya untuk membiarkan saya tidak dewasa dan kekurangan.

Tuhan, Penenun Agung. Dia menarik benang dan mencampur warna, benang compang-camping dengan benang beludru, kesakitan dan kesenangan. Tidak ada yang luput dari jangkauan-Nya. Setiap raja, penguasa lalim, pola cuaca, dan molekul ada dalam perintah-Nya. Dia melepaskan ulang-alik antar generasi, dan saat Ia melakukannya, sebuah desain muncul. Iblis menenun; Tuhan menenun ulang. ~ Max Lucado

Kebaikan dari merasa tidak utuh?
Kebergantungan saya lebih besar. My dependence is greater.

Prioritas saya diperhitungkan ulang.

Kehendak saya hancur.

Hati saya dibuat lembut.

Belas kasihan saya menjadi lebih kuat.

Pelayanan saya menjadi lebih efektif.

Tuhan bersinar lebih terang… bagi kebaikan saya, dan kemuliaan-Nya.

Saya belajar bertahun-tahun bahwa orang yang utuh tidaklah ada. Dan saya juga belajar bahwa meskipun mereka ada, saya tidak mau menjadi seperti mereka. Dalam kelemahan saya, saya telah melihat Kristus lebih banyak, dan Ia jauh lebih indah dari sebelumnya.

Saya telah melihat Dia menenun cerita yang dipenuhi anugerah – berantakan dan berbelit di dasarnya – menjadi presentasi yang luar biasa, bertujuan, dan lebih jelas kepada dunia untuk melihat lebih banyak Tuhan Yesus dalam diri saya. Saya belajar bahwa dunia tidak perlu satu lagi pengikut Yesus pura-pura yang kelihatan utuh. Dunia ini hanya perlu Yesus.

Jadi bentuk saya menjadi lebih seperti Engkau, Bapa. Apapun yang diperlukan. Karena tidak ada yang luput dari jangkauan-Mu, kepercayaan diri saya ada dalam Engkau. Bersinarlah lebih terang, bagi kebaikan saya, dan kemuliaan-Mu.

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” – 2 Korintus 12:9

Mari Berbincang: Apa yang Tuhan ajarkan pada ANDA dalam kelemahan Anda?

 Di kaki-Nya,
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s