Uncategorized

Minggu 2: Ketika Tuhan Tersingkirkan

“Alkitab tidak pernah menyembunyikan betapa kelam segala hal jika Tuhan tersingkirkan.” – Alistair Begg

 

“Lalu aku berpaling untuk meninjau hikmat, kebodohan, dan kebebalan, sebab apa yang dapat dilakukan orang yang menggantikan raja? Hanya apa yang telah dilakukan orang. Dan aku melihat bahwa hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan. Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua. Maka aku berkata dalam hari: “Nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat?” Lalu aku berkata dalam hati, bahwa inipun sia-sia. Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh! Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.

 

Saya rasa saya harus bercerita lucu saat sekarang ini. Heh. Anda semua, buku ini berat untuk hidup. Namun seperti juga optimism saya tertantang oleh nada (pesimis) dalam banyak bagian Pengkotbah, percakapan berulang yang diilhami Tuhan tentang bagaimana menemukan kepuasan dalam dunia fana terlalu tak asing dan meminta perhatian kita.

 

Percakapan ini tanpa rujukan akan Tuhan, dan terjadi di sekeliling kita.

It’s a conversation without reference to God, and it’s happening all around us.

Dari tempat kerja sampai ke debat politik terkini – dan keterbatasan hati dan rumah kita- kita menjadi semakin gelisah dan mencari jawaban diluar Tuhan.

From the workplace to the latest political debate – and in the confines of our very own hearts and homes – we’re becoming increasingly restless and grasping for answers apart from God.

Dari Pengkotbah 1:14-2:23, Tuhan tersingkirkan. Dan sebelum kita terlalu kristis akan Salomo yang pelupa, ini adalah wabah yang kita sebagai pengikut Yesus juga kerap kali bersalah melakukannya…

Kita penuh dengan percakapan penuh percaya diri tentang Tuhan pada hari Minggu, tapi Senin sampai Sabtu kita hampir tidak menyebut Nama-Nya.

Kita terjaga semalaman kuatir tentang esok hari, tanpa pernah membawanya kepada Tuhan dalam doa.

Kita memperdebatkan berita dunia dan politik dengan opini pribadi dan keputus-asaan, namun gagal menyampaikan iman percaya kita akan Tuhan yang berdaulat.

Kita mengukur harga diri kita dengan bagaimana dunia mengukur sebuah keberhasilan, dan merasa kalah saat kita gagal, alih-alih dengan percaya diri berdiri atas siapa kita dalam Kristus.

Ketika Tuhan tersingkirkan, hikmat kita menjadi duniawi. Tidak diperlukan waktu lama, bukan? Semakin lama kita menghabiskan waktu jauh dari Firman Tuhan – khususnya dalam saat keraguan – semakin kita membiarkan kata-kata dan cara dunia, bukan Kebenaran, mengambil alih hati dan pikiran kita. Yang kekasih, hikmat dunia tidak akan pernah memuaskan. Tetapi hikmat dari Tuhan adalah murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. – Yakobus 3:17

Ketika Tuhan tersingkirkan, kesaksian kita terkena dampaknya. Hidup kita secara terus-menerus menyatakan sebuah cerita – mengarahkan orang lain kepada atau menjauh dari Kristus. Saat kita meninggalkan Tuhan untuk mencari jawaban kita atas hidup ini, kita tidak hanya berkontribusi pada kesia-siaan diri kita sendiri; kita juga kehilangan kesempatan untuk memperkatakan harapan dan kebenaran pada dunia yang hampir mati. Tuhan telah memanggil kita untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil (Matius 28:19). Bagaimana kita dapat memberitakan Injil kepada mereka yang terhilang jika kita tidak dapat memberitakannya kepada diri kita sendiri? Ketika Tuhan tersingkirkan, jiwa kita merindu. Augustine meringkasnya dengan paling baik: “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu, O Tuhan, dan hati kami gelisah sampai menemukan istirahatnya dalam Engkau.” Bahkan ketika Salomo mengakui bahwa hikmat lebih baik dari kebodohan, hatinya masih gelisah memikirkan kematian yang datang pada semua orang. Kecenderungan kita akan amnesia-Injil menyingkirkan fokus kita dari kenyataaan bahwa bagi orang percaya, kematian bukanlah akhir…dan apapun yang kita dapatkan di dunia ini tidak dapat dibandingkan dengan hubungan dengan Tuhan dan kekekalan di surga dengan Dia.

*Mari Berbincang: Di bagian mana dalam detil hidup Anda yang telah menyingkirkan Tuhan dari perhitungan?

Kabar baiknya adalah dalam Pasal 2 ayat 24 Nama Tuhan disebutkan kembali. Percayalah, Anda akan mendengar perbedaannya. Nama-Nya melebihi segala sesuatu yang dunia ini dapat tawarkan. Hati kita tidak harus menjadi gelisah lagi. Mari taruh Tuhan kembali dalam percakapan-percakapan kita dan secara utuh menghidupi dan menyatakan harapan pasti ini kepada dunia!

Di Kaki-Nya,

{Minggu 2} Tantangan:  Saat Anda berinteraksi dengan orang lain dan menemukan adanya penderitaan, hilangnya harapan, dan saratnya hikmat dunia, usahakan dengan sengaja membawa Tuhan ke dalam percakapan… berbicara kebenaran, harapan, dan kasih Kristus kepada orang-orang di sekitar Anda.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s