Uncategorized

Menjalani Hidup Berkelimpahan

12421778_10153412609167694_1889078601_n

 “Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku. Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu, dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.“ Pengkhotbah 2:9-11

 

Bacaan Pengkhotbah hari ini menyatakan bahwa Salomo, anak Daud, raja Yerusalem, adalah pria yang mengaku diri memiliki kesempatan untuk memanjakan diri dalam banyak hal yang baik. Dia berkata, “Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun.” Salomo lebih berhasil dari kebanyakan orang dalam pencarian akan kuasa, posisi, harta milik, dan kenikmatan. Sebagai tambahan dari semuanya ini, Salomo mengatakan bahwa hikmat tetap ada padanya. Bahkan hikmat inilah yang memampukan Salomo untuk mengulas kisah hidupnya dan mengulangi, sekitar 37 kali, bahwa meskipun dia telah mengalami semuanya, semua itu “sia-sia.”

Apa yang Tuhan ajarkan pada kita melalui kata-kata Salomo? Apa yang dapat kita ambil dari bacaan kita pada Jumat Agung ini, hari yang dirayakan oleh orang Kristen si seluruh dunia sebagai hari penyaliban Yesus Kristus dan kematiannya di Kalvari?

Pada hari yang khidmat ini, mari kita renungkan hidup Tuhan kita. Kita mengingat kelahirannya di kandang sederhana dan kematian-Nya di Kalvari, dan kita adalah saksi akan hidup yang dipenuhi dengan tujuan dan arti. Sebaliknya, hidup Salomo, meskipun hidup dengan  keistimewaan, hidup seperti tuhan atas dirinya dan seringkali merasa diri tidak terpenuhkan dan kosong di dalam dan melalui pengalaman-pengalamannya.

Tulisan Salomo mengajar kita bahwa hidup yang dipenuhi oleh kenikmatan atau kebahagiaan sebagai tujuan terpenting akan hampa makna dan tujuan. Ilah-ilah menemukan cara untuk meninggalkan kita dengan kerinduan yang tak terpuaskan; karenanya, kita menerukan perjuangan tanpa akhir untuk mengejar sesuatu atau seseorang yang tidak berkuasa untuk memberikan kepuasan yang kita rindukan. Kenikmatan atau kebahagiaan mungkin memberikan kepuasan sesaat tapi akhirnya terbukti tidak memuaskan. Pada titik ini, kita mungkin tergoda untuk berteriak seperti Salomo: “Segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin, memang tak ada keuntungan di bawah matahari.” Kesimpulan Salomo tidak berbicara tentang ketakbermaknaan hidup, tapi lebih tentang tidak bermaknya hidup terlepas dari Tuhan. Dia mengajar kita bahwa usaha manusia, bagaimanapun mulianya, mewakili kehidupan yang dijalani dengan kesia-siaan.

Dalam Yohanes 10:10 Yesus menjelaskan, “Pencuri datang untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Hidup berkelimpahan yang dikatakan Yesus tidak ditemukan dalam benda-benda yang kita dapatkan atau bahkan dalam hubungan manusia kita. Hidup berkelimpahan yang Yesus katakan adalah hidup yang ditawarkan kepada manusia sebagai hasil dari kematian Yesus di salib Kalvari. Itulah hubungan supranatural dengan Tuhan, melalui Yesus, diperkaya dan dimampukan oleh Roh Kudus, yang memberikan arti dan tujuan bagi apa yang sebenarnya adalah hidup yang sia-sia.

Saat Salomo menyelesaikan tulisannya, dia menulis bahwa seluruh tugas manusia ialah takut akan Tuhan dan mematuhi perintah-perintah-Nya. Salomo menemukan jalannya menuju Tuhan, dan dalam prosesnya menemukan arti dan tujuan sejati dalam hidup. Mari dengan penuh doa dan kerendahan hati, kita melihat hidup kita dalam terang pengorbanan Kristus, dan kembali berkomitmen untuk mengasihi Tuhan dan melakukan perintah-perintah-Nya.

Mari berbincang: Apa yang dapat kita ambil dari bacaan kita pada hari Jumat Agung ini, hari yang diperingati orang Kristen di seluruh dunia sebagai penyaliban Yesus Kristus dan kematiannya di Kalvari?

 

Joan

Joan adalah anggota Tim Kepemimpinan LGG.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s