Uncategorized

Pengantar Kitab Pengkhotbah

Sepertinya banyak orang Kristen hari ini yang lebih menghabiskan waktu membaca Perjanjian Baru dibanding Perjanjian Lama. Tapi hanya membaca setengah bagian dari Alkitab seperti hanya makan dari satu jenis kelompok makanan saja. Hanya makan daging akan membawa kesulitan. Hanya makan gandum akan menghalangi tubuh dari nutrisi yang diperlukan. Kita perlu membaca Perjanjian Lama. Mengapa? Jawabannya ada dalam Roma 15:4

Ini tentunya benar sekali untuk kitab Pengkhotbah, yang kita pelajari sekarang

“Kesia-siaan belaka… segala sesuatu adalah sia-sia.” (Pengkhotbah 1:2). Demikianlah awal dan akhir dari satu kitab paling sulit dan menantang dalam Alkitab. Sekilas, buku ini sepertinya bacaan yang sangat menyedihkan. Buku ini menekankan kekosongan hidup dan kesia-siaan dari begitu banyak hal baik yang kita alami di dunia ini. Namun membaca secara teliti akan menunjukkan pada Anda bahwa pesan utuhnya memuliakan Tuhan dan membawa sukacita.

Penulis kitab Pengkhotbah dipercayai adalah Raja Salomo, anak Daud. Namun banyak perdebatan di dua abad terakhir bahwa Pengkhotbah ditulis oleh seseorang yang hidup setelah raja Salomo dan yang namanya tidak kita ketahui. Siapapun penulisnya, Pengkhotbah mengevaluasi hidup yang dilalui bersama Tuhan dan hidup yang terpisah dari Tuhan.

Anda akan mengamati bahwa Salomo melompat dari satu topik ke topik yang lain. Beberapa tema yang dibahas adalah:

  • Dunia ini bobrok, sementara, membingungkan, dan kelihatannya tidak adil
  • Kita bukan Tuhan dan karenanya tidak selalu memahami apa yang Dia lakukan
  • Kebijaksanaan lebih baik dari kebodohan
  • Hal-hal duniawi tidak abadi dan nilainya kecil
  • Kematian datang pada setiap orang
  • Kepuasan sejati tidak ditemukan dalam hal-hal duniawi

Pemikiran utama kitab Pengkhotbah adalah bahwa hidup tidak berarti kecuali seseorang mengenal Tuhan. Karena hidup tanpa Tuhan sedikit lebih dari serangkaian pengalaman yang membawa setiap orang, baik kaya atau miskin, bermoral atau tidak, kepada kubur. Pikiran yang cerdas adalah hal yang baik tapi akan memudar seiring waktu, dan bahkan kebijaksanaan menjadi tumpul. Kekayaan sangatlah diinginkan dan berguna, tapi dapat membawa kita kepada kemalangan. Bahkan ketika kita berpegang pada kekayaan, hal itu tidak akan kita bawa melalui kubur. Kesimpulan Salomo adalah untuk seseorang menemukan arti, tujuan, dan kepuasan hidup, dia harus mengenal Tuhan. Mengenal Tuhan, mengasihi-Nya, takut akan Dia, mengikuti-Nya, dan menemukan identitas kita dalam Dia membebaskan kita untuk menikmati karunia-karunia sementara dalam hidup ini dan memandang jauh melampaui karunia-karunia tersebut kepada hidup yang kekal.

“Biarlah semua yang kosong di Bumi, membawamu kepada satu-satunya yang memuaskan – kasih karunia Allah, kasih Allah, Anak Domba Allah; kepada “Yesus Kristus, (yang) tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8)

  • George Mylne, (1859)

Memandang kepada Yesus,

Jen Thorn

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s